Sheraton Bandung Hotel & Towers

4.2 (10 Ulasan)

Jalan Ir. H. Juanda No. 390, Bandung, Jawa Barat, 40135, Indonesia   •  Cuaca:    •   Waktu Setempat:     •  Telepon: (62)(22) 2500303  

4.2

=""/

Image by: www.kotakami.com

Vihara dan Orang-orang Cina di Bandung

Diperkirakan orang-orang Cina datang ke  Bandung di  awal  abad  ke19. Dapatditelusuri  dari  kebijakan  kolonial  yaitu  Wijkenstelsel,  yang mengaturpenempatan orang-orang Asia  Timur dengan beberapa batasan. Kebijakan inikemudian diikuti  oleh kebijakan lain bernama Passenstelsel, yang mewaibkanorang-orang Cina di Jawa Barat untuk mempunyai ijin bila mereka ingin keluardari batasan itu. Kebijakan ini bermaksud untuk membatasi jumlah orang Cina diJawa  Barat  agar mereka  tidak  dapat terlibat  di  monopoli  bisnis  yang sedangdijalankan oleh pemerintah kolonial saat itu. 

Bagaimanapun,  kebijakan  itu  tidak  berjalan  efektif  dalam  jangka waktu  yanglama. Ketika Gubernur Jendral Herman W Daendels mengeluarkan Besluit vanden  Zommermand  di  tahun  1810,  orang-orang  CIna  kemudia  ditempatkan  dibeberapa  area  di  Jawa  Barat seperti  CIanjur,  Bandung  dan Sumedang  untukmemancing  kemajuan di  bidang  perkebunan.  Namun  kemudian  justru  orang-orang  CIna memilih  untuk  tinggal  di  Batavia  dan Cirebon.  Ada  isu bahwaDaendels  harus memindahkan  mereka  dari  Cirebon ke Priangan dengan  carapaksa.  Kebanyakan orang CIna bekerja sebagai pedagang, buruh,  tukang kayu,atau pekerja pembuat rel. Tidak mengejutkan, kebanyakan dari mereka tinggal disekitar  pasar  dan  stasiun  kereta api yang kemudian  menjadi  cikal  bakalChinatown di Bandung.

Seperti  pendahulunya,  orang-orang  CIna  juga  meneruskan  aneka budaya  danmemeluk  Konfusianisme.  Mereka  mempraktikkan  budaya dan  agama Cina seperti  Tahun  Baru  Cina  (Imlek),  Ceng  Beng  dan lain-lain  yang  berpusat  dibangunan  religi.  Karenanya,  orang-orang Cina  di  Bandung membangun kelenteng di beberapa lokasi. Menurut catatan, Kelenteng Xie Tian Gong adalah kelenteng pertama di  Bandung. Dibangun tahun 1885 dengan nama Sheng DiMiao. Kelenteng ini dibangun ulang pada tahun 1917 dan dinamai Xie Tian Gong.Nama  kelenteng sendiri  dalam  bahasa  Indonesia  adalah istilah  untuk persembahan kepada Dewi Kwan Im.  Dipercaya bahwa kelenteng berasal  dari Dewi Kwan Im. Arsitektural dari kelenteng ini tentu saja sesuai dengan kelenteng tradisional  Cina,  kebanyakan  dipengaruhi  oleh  nilai-nilai Konfusianisme, Taoisme,  dan  Budisme.  Kelenteng  Xie  Tian  Gong juga dikenal dengan  nama Kelenteng  Satya  Budhi,  berlokasi  di  Jalan Kelenteng  no  223A,  tak  jauh  dari stasiun kereta api dan Pasar Bandung.

Di sekitar kelenteng ini Anda bisa melihat beberapa bangunan komunitas orang Cina.  Beberapa dari  bangunan ini  masih terpelihara dengan baik, digunakan untuk berdagang atau untuk rumah tinggal. Bukan hanya kehangatan tradisonal dan arsitektural Cina yang bisa Anda nikmati disana,  Anda  juga  bisa menikmati banyak  makanan  khas  Cina.  Ada banyak restoran dan café yang menyajikan masakan Cina di Bandung, siap memanjakan lidah Anda dengan rasa autentik seperti di Cina.